Cincin Tjokroaminoto

Diposting oleh : Admin Syarikat Islam | Friday, 22 April 2016. 02.37 WIB
22 Comments

Melintas sebuah jalan besar di kota Bandung, di salah satu sudut perempatan jalan terpampang sebuah spanduk bertuliskan Majelis Tahkim/Kongres Nasional ke-40 Syarikat Islam. Seorang remaja yang duduk di sebelah kakeknya sempat memperhatikan ‘respon’ dari sang kakek. Si kakek terlihat termenung dan menatap panjang ke depan. Sesekali ia menunduk dan sesekali pula ia menggelengkan kepala.

“Kenapa kakek terdiam, ada kenangan dengan apa yang terbaca di spanduk itu,” sapa Gustian, sang cucu.

Agak terkesiap si kakek menjawab, “Ohh, ya, ya, ada kenangan manis dan pahit kakek dengan Syarikat Islam, dulu namanya PSII.”

“Mirip PSSI ya, Kek,” potong Gustian.

“Ya, beda-beda tipislah,” sahut Nurhadin sekenanya.

“Husss, jangan sembarang omong kayak gitu. Nanti kakekmu marah.” Ibu kedua anak itu ikut menimpali.

“Ya, kan isinya orang berantem melulu, gak pernah akur. Maaf ya, Kek, aku cuma bercanda kok,” jawab Nurhadin yang pernah sebentar aktif di Pemuda Muslim.

Si kakek cuma tersenyum mendengar celotehan-celotehan cucu dan anak perempuannya itu. “Abah mau minum, ini ada soft drink atau air mineral?” ujar Sofiah mengalihkan pembicaraan.

Pak Salman memilih air mineral. “Apa pun yang kalian katakan, buat kakek PSII atau Syarikat Islam itu adalah alat perjuangan kakek waktu muda dulu. Dari situlah kakek memahami perjalanan hidup ini.

“Banyak nostalgia, ya, Kek. Ketemu almarhumah nenek kan juga di situ. Cinlok-cinlok….” canda Nurhadin disambut tawa seisi mobil keluarga itu.

“Apa itu cinlok?”

“Itu lho, Bah, cinta lokasi kayak pemain sinetron atau film zaman sekarang, yang laki-laki sering bertemu dengan lawan mainnya yang perempuan lalu saling jatuh cinta.” Pak Salman tertawa kecil mendengar penjelasan Inah.

“Boleh jadi, karena waktu itu di Matraman kakek dan nenek sebagai pemuda dan pemudi yang aktif, kami sama-sama di Pemuda Muslimin Indonesia. Ketuanya waktu itu Sjarifuddin Harahap. Ah, kamu Nur, kakek jadi kangen nenekmu.”

“Jadi sebenarnya kakek dulu itu jadi aktifis atau memang cuma mau mengejar nenek?”

“Nur, kamu ini apa-apaan sih?” Yang disahut cepat, “Becanda, Ma….”

[vcex_divider style=”solid” icon_color=”#000000″ icon_size=”14px” margin_top=”20px” margin_bottom=”20px”]

Kendaraan yang ditumpangi keluarga itu sudah sampai di depan rumah mereka. “Kakek jadi kangen teman seperjuangan dulu, di mana sekarang Kang Uhu, ya?”

“Teman di waktu LT juga?” tanya Valinah.

“Apa itu LT?” tanya Gustian.

“Itu sebutan kantor DPP PSII, orang-orang dulu menyebutnya LT, singkatan dari Lajnah Tanfidziyah,” jawab Pak Salman.

“Maksud Abah, Mang Ubu, bukan?”

“Oh bukan, itu mah tokoh senior namanya Haji Abdullah Ridwan, anak dari Pak Kyai Mustafa Kamil,” sahut Pak Salma n.

“Kang Uhu yang mana ya, Inah gak sempat kenal.”

“Kang Uhu itu adik dari Jenderal Arudji Kartawinata,” sahut Pak Salman.

“Nah, kalau bu Yati Arudji, Inah tahu. Orangnya cerewet, galak, tapi baik dan dermawan.” Masih kuat rekaman memori Inah tentang beberapa nama tokoh SI di masa lalu.

“Kenapa Abah tiba-tiba ingat Kang Uhu itu, mamangnya dulu pernah berbeda pendapat atau berkelahi sama dia?” Inah cari tahu.

“Oh, malah tidak. Teman Abah bertengkar itu justru cucunya Pak Tjokro, Mas Ahmad Dainuri. Kalau sama dia pasti Abah sering beda pandangan, tapi ya tak berapa lama juga selesai, waktu shalat berjamaah di Masjid Jami’ Matraman. Itu kebiasaan aktifis SI atau PSII zaman itu,” uja Pak Salman menjelaskan sambil memasuki ruang tengah rumah anaknya itu.

“Nah kalau sama Kang Uhu itu, gak pernah berdebat atau berselisih faham? sela Nurhadin.

“Malah gak pernah. Jadi ingat dia, gara-gara itu itu tadi waktu di lampu merah kakek lihat banyak sekali orang menggosok-gosok batu cincin.

“Maksud kakek, Kakek Uhu itu dulu juga tukang batu cincin?” tanya Gustian polos.

Pak Salman tertawa geli. “Bukan, tapi Kang Uhu itu yang dulu paling sibuk bercerita tentang cincin yang dipakai HOS Tjokroaminoto. Kata dia, cincin HOS atau Pak Tjokro itu bertuah, sampai-sampai orang Belanda pun berhadapan dengan Pak Tjokro jadi ciut nyalinya.

“Ah, masa iya?” tanya Inah dan kedua anaknya hampir serempak.

“Mungkin juga,” jawab Pak Salman datar.

“Bukannya memang Pak Tjokro itu seorang yang sakti, Abah?”

“Sebagian kaum SI punya anggapan seperti itu. Bahkan ada semacam kepercayaan sebagian anggota kaum bahwa HOS juga dapat berkomunikasi dengan Nyi Roro Kidul. Dia kalau keliling Jawa itu kabarnya dengan menunggangi Kuda Sembrani, sampai ke daerah Tegal Buleud, Jampangkulon, Sukabumi sana.

“Emang Nyi Roro Kidul itu ada, Kek?” potong Gustian.

“Wallahu a’lam.”

“Ya, itu kan kepercayaan secara tradisional masyarakat kita yang secara nalar memang susah diterangkan. Apalagi untuk diterima anak-anak zaman sekarang. Ayo kita makan,” tawar Inah seusai menyiapkan hidangan. Mereka pun makan bersama.

“Terus, soal cincin HOS itu gimana ceritanya, Kek. Siapa yang pakai cincin itu sekarang?” tanya Nurhadin melanjutkan percakapan.

“Ya, itulah. Kang Uhu sibuk mencari di mana gerangan keberadaan cincin itu kemudian. Menurut Kang Uhu hanya orang yang mengenakan cincin itulah yang bisa memimpin SI atau PSII menjadi besar seperti dulu….”

“Ah, apa ya harus begitu, Kek? Bukannya tahayul itu,” sergah Nurhadin.

“Itu kan menurut sejawat kakek, Kang Uhu. Makanya dulu dia sibuk sekali mencari tahu ke mana-mana dan siapa yang menyimpan cincin yang pernah dikenakan HOS Tjokroaminoto itu.”

“Cincinnya seperti apa sih, Kek?” tanya Gustian.

“Ya, kakek tidak tahu. Mungkin seperti apa yang tergambar dalam lukisan besar HOS Tjokroaminoto di kantor LT Matraman itu.”

“Oh, lukisan yang besar bergandeng dengan lukisan H. Agus Salim di sebelahnya itu?” sahut Gustian.

“Ah, kalau soal cincin pastinya bakal susah dicari, Kek. Lagi ngapain juga nyari barang yang tak seberapa penting itu?” sergah Nurhadin.

“Lha, yang mau cari cincin itu memangnya siapa? Itu kan cerita teman kakek waktu muda dulu….”

“Nah, kalau cerita Abah tentang Tas Coklat HOS Tjokroaminoto itu, bagaimana kelanjutannya sekarang?” pinta Inah.

“Oh, abah pernah cerita soal tas coklat HOS ya, ke kamu?” Pak Salam sejuru kaget mendengar pertanyaan anaknya itu.

“Iya, tas itu konon berisi titipan surat-surat berharga para raja dan sultan yang merupakan kekayaan di Nusantara itu, Abah lupa ya pernah cerita dulu…”

“Ah, kalau itu abah sendiri kurang begitu jelas mendapat penjelasan ceritanya, tapi memang kabarnya, para raja dan sultan se-Nusantara mencari sosok yang bisa dipercaya untuk memegang amanat, beliaulah dipandang sebagai orang yang tepat memegang kepercayaan itu,” sahut Pak Salman.

“Apa lantaran itu, kemudian HOS Tjokroaminoto mendapat sebutan dengan gelar Raja Jawa tanpa Mahkota?” selidik Nurhadin.

“Oh bukan, beda lagi itu. Itu kalau tidak keliru julukan dari peneliti asing tentang sosok ketokohan HOS Tjokroaminoto yang dipandangnya tak ubahnya seperti seorang raja, lantaran amat kuat pengaruhnya, berkelas, pemimpin kaum yang didengar ucapannya, lalu disegani bangsa Belanda dan perantauan China sekaligus.”

“Tas coklat itu siapa yang pegang sekarang, Bah?”

“Ah, sudahlah jadi ngelantur omongan kita. Abah cuma bisa bilang Allahu a’lam soal itu. Nanti kakek mau hadiri tahkim itu, sambil bersilaturahim dengan teman-teman kakek yang masih hidup dan hadir dalam acara Tahkim di Bandung ini,” Pak Salman mengelak soal kejaran pertanyaan Inah anak kesayangannya itu.

“Memangnya boleh datang, kan kakek bukan pengurus SI?” tanya Nurhadin.

“Ya bolehlah, justru di situ unik dan istimewanya SI, warga SI dipersilakan datang memeriahkan tahkim, meski kakek tentu tak bisa berbicara di forum permusyawaratannya. Kalau dulu, ditugaskan o;eh Syaikh Marhaban, kakek memang jadi utusan resmi, sebagai Wufud istilahnya.

Diam-diam Gustian, cucu Pak Salman meraba dan menarik tangan kekeknya itu. Lalu ia berteriak dengan mengejutkan. “Ah, ternyata cincin Almahum Yang Utama HOS Tjokroaminoto ada di sini, ini dia dipakai oleh kakek,” ujarnya sambil menarik dan mengangkat tangan kekeknya.

“Ah, kamu Gus, ada-ada saja,” sahut Pak Salman. Meledaklah tawa keluarga yang di salah satu sudut dinding rumahnya terpampang lambang kebesaran Syarikat Islam. (Al-Jausan, 18 September 2015)

Komentar


Komentar anda tentang berita ini :