HOS. Tjokroaminoto : Bukan sekedar Guru Bangsa

Diposting oleh : Admin Syarikat Islam | Wednesday, 20 April 2016. 02.28 WIB
22 Comments

HAJI OEMAR SAID TJOKROAMINOTO (1883 – 1934) adalah fenomena zaman. Terlahir untuk masanya, namun pengaruhnya lintas masa. Pesonannya tidak hanya dalam retorika, namun mengedepan dalam intelegensia. Kritis, tapi tetap objektif. Kerap menabrak tembok tata krama dan pakem-pakem aristokrasi jawa, namun tak kehilangan pegangan. Karena itu, ia menolak penghambaan kebangsawanan, kendati ia sendiri berdarah ningrat. Prakteknya, ia menjunjung tinggi kesetaraan. Dalam pendapatnya, relasi kemanusiaan mesti diikat oleh tiga unsur: kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan. Sebuah sikap yang boleh dikata “nyeleneh” di kala itu, mengingat saat itu Pemerintah Kolonial Belanda tengah gencar menjalankan politik etis dengan menomor duakan hak bangsa pribumi.

BANYAK julukan dan sanjungan dilekatkan kepadanya, tapi tak melenakannya. Boleh dikata hampir merespons semua aliran pemikiran yang berkembang saat itu, menjadikannya dinilai pluralis dan egaliter. Kepada murid dan pengikutnya, ia menerangkan dan mengajarkan pelbagai aliran pemikiran dan faham, namun tak memaksakan untuk menganut salah satunya. Dalam perjalanannya, murid-muridnya memilih jalan masing-masing melalui Nasionalisme (Soekarno), Komunisme (Semaun) dan Islamisme (SM. Kartosuwirdjo).

Tampilannya esentrik untuk zamannya. Tengok saja lukisan diri yang tengah duduk dalam posisi topang kaki. Itu bukan pose “gaya-gayaan”. Apa yang bisa kita tangkap dari pose tersebut? Apa ada semacam sikap perlawanan? Sebuah tantangan? Atau, hanya sikap sporadis semata? Kebijakan kolonialisme Belanda kala itu, tidak hanya membatasi ruang gerak politik, melainkan membatasi juga dalam sikap dan tampilan. Pose yang terkesan “congkak” yang diperlihatkan HOS. Tjokroaminoto adalah sebuah jawaban terhadap pemerintah kolonialisme Belanda: bahwa kita setara. Sama dengan menolak sikap “ribed” dalam etika dan estetika kebangsawanan jawa saat itu. Lewat penampilan di lukisan itu, HOS. Tjokroaminoto ingin menunjukkan tidak ada lagi sekat pembatas dalam bersikap antara bangsa pribumi, kaum bangsawan jawa dan kaum penjajah Belanda.

Seperti ada selubung dalam interval waktu kehidupannya yang belum sepenuhnya terbaca, tapi itu tidak berarti mengurangi kontribusi pemikiran dan perjuangannya dalam menata fondasi dan desain awal bangunan kebangsaan republik ini. Beberapa istilah kenegaraan seperti penggunaan kata”nasional”, “Majelis Ulama Indonesia”, pemakaian peci nasional dan pengibaran bendera merah putih sebagai bendera nasional, telah dijalani di lingkungan Syarikat Islam atas inisiatif HOS. Tjokroaminoto. Karena itu, memang layak gelar “pahlawan” disematkan kepadanya.

Efek film “HOS. Tjokroaminoto Guru Bangsa” yang ditayang bioskop-bioskop beberapa   lalu, boleh dikata cukup membuka cuplikan penggalan kehidupannya. Pak Tjokro (selanjutnya demikian kami memanggilnya), dalam relasi pemikiran politik tidak hanya telah ikut membentuk karakter tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan semisal Soekarno, Semaun, SM. Kartosuwirdjo, Hamka, Moehammad Roem, namun tanpa sepenuhnya terungkap, lewat pemikirannya pula ihwal pola dan strategi pergerakan disusun dan diterapkan sebagai standarisasi. Lewat pemikiran Pak Tjokro, rumusan awal Pancasila dan format konsepsi negara kesatuan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika telah disusun . Bahkan, mungkin tanpa banyak diketahui, sejak awal Pak Tjokro pun telah ikut merumuskan sistem dan mekanisme pengelolaan keuangan negara, termasuk penetapan kurs nilai tukar mata uang.

Sedemikian jeli dan rincinya Pak Tjokro mempersiapkan kerangka acuan bagi terbentuknya sebuah negara (Zelfbestuur), namun banyak hal pula dari apa yang dilakukannya itu, hanya terungkap dalam fakta tutur kata atau cerita dari orang ke orang yang dekat dengan kehidupannya.

Kehausan Pak Tjokro terhadap pelbagai sumber bacaan, telah ikut melahirkan gagasan cemerlang yang menginspirasi setiap pengikutnya. Begitupun kebiasaannya berkeliling ke daerah-daerah, bertemu dan berdikusi dengan “orang-orang pintar” atau ulama-ulama setempat, telah ikut pula memperkaya khasanah berpikirnya. Rute pengembaraan keilmuannya, salah satunya diendapkan dalam karya monumentalnya, “Islam dan Sosialisme”. Karyanya ini, tidak hanya menunjukkan keluasan berpikirnya, namun juga memperlihatkan keragaman sumber referensi bacaannya.

Dalam bukunya Islam dan Sosialisme itu, Pak Tjokro tidak hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber rujukan utama, melainkan ada lebih 20 orang pemikir dan professor dimasannya yang dikutip pemikirannya. Diantaranya Prof. Quack, Karl Marx dan Fredericich Engel, Hegel, Darwin, Renan, Prof. Theodor Noldeke, dan lainnya. Terhadap apa yang disampaikan para pemikir dan profesor ini, Pak Tjokro tidak berarti sepenuhnya menerima gagasan mereka. Selain sebagai bahan komparasi (perbandingan), gagasan mereka itu dijadikan sebagai “ramuan” bagi olahan ide-ide kenegaraan dan kebangsaannya. Kendati demikian, kehidupan Nabi Muhammad SAW beserta empat sahabat utamanya (Khulafaur Rasyidin) tetap menjadi sumber inspirasinya.

Namun, ada yang lebih utama dalam menangkap pesan Pak Tjokro. Mosi-mosinya ihwal penegapan kehidupan berbangsa yang lebih merdeka, mesti di kondisikan dalam situasi kekinian. Artinya, kita tidak diminta terlena oleh perjuangannya dan terpesona oleh retorikanya semata, namun tetap konsisten untuk menangkap gagasannya dalam dunia kontemporer saat ini.Upayanya menentang Kapitalisme dan liberalisme saat itu, mesti dipandang dalam mosi-mosi baru saat ini untuk menterjemahkan kapitalisme dan neo-liberalisme dalam wajah baru. Kita perlu tactical adjusment dalam merealisasikannya. Karena itu, Pak Tjokro bukan sekedar Guru Bangsa. Pak Tjokro adalah sumber mata air tak pernah surut. Untuk ini, panjang ceritanya….***

Oleh Tavinur S. Ramadhani :
Anak ideologis SI, sekaligus lahir dari kemurnian darah SI

Komentar


Komentar anda tentang berita ini :