Mewarisi Syarikat Islam: Histori, Konsep, Dan Cita (Memperingati 109 Tahun Syarikat Dagang Islam)

Diposting oleh : Admin Syarikat Islam | Friday, 22 April 2016. 02.42 WIB
20 Comments

Syarikat Dagang Islam (SDI) berulang tahun pada 16 November dan Pertahanan Ideologi Syarikat Islam (Perisai) berulang tahun pada 17 November. SDI adalah tonggak sejarah gerakan kebangsaan Syarikat Islam (SI) yang kini kurang memainkan peran sejarahnya. Tulisan ini hendak memberikan sebuah perspektif tentang organisasi pergerakan pertama dan terbesar dalam periode awal pergerakan kebangsaan Indonesia, terutama untuk dapat mewarisi spiritnya, bukan institusinya belaka.

Bangsa-bangsa di hamparan pulau-pulau Nusantara tiba-tiba dihentak oleh sebuah deklarasi organisasi bervisi kebangsaan tatkala mereka sedang sibuk mengurusi perkumpulan berbasis kedaerahan. Saat itu tepat 109 tahun lalu, Haji Samanhudi mendirikan Syarikat Dagang Islam (SDI). Organisasi yang selanjutnya berkembang menjadi Syarikat Islam (SI) tersebut diakui telah menginspirasi pergerakan revolusioner Nusantara di wilayah Hindia-Belanda yang kelak menjadi Indonesia itu. Semua pasti mengamini bahwa tokoh terkemuka SI telah mendidik secara matang tiga tokoh dengan latar pilihan ideology politik yang berbeda, masing-masing; Soekarmadji Maridjan Kartosoewijo dengan gagasan Negara Islam Indonesia (NII), Soekarno dengan gagasan Nasionalisme Indonesia, dan Semaoen dengan gagasan Sosialisme-Komunisme Indonesia.

Perjalanan bangsa seyogianya mengambil inspirasi dari deretan catatan sejarah pergerakannya di masa lalu sebagaimana sebuah disiplin pengetahuan yang diharapkan dapat menginspirasi kekuatan besar di masa mendatang. Patut disayangkan, ada gejala generasi di negeri ini, kini mengalami kelemahan penggalain inspirasi sehingga SI sebagai ‘prasasti’ sejarah pergerakan kebangsaan terbesar tanah air di awal Abad ke-20 seolah terabaikan. Ini terjadi justru pada saat negeri ini membutuhkan inspirasi pergerakan baru. Fakta saat tentang rendahnya penggalian terhadap peran pergerakan SI ini terjadidi saat amat pentingnya menjawab pertanyaan, “Bagaimana seharusnya membaca dan memaknai Syarikat Islam?” Tulisan ringkas ini ingin mencoba menjawab dalam perspektif lain mengenai SI meski ruang yang tersedia sangat terbatas.Penulis menggunakan alat dan pola analisis yang persis sama dengan Daniel Dhakidae ketika mencoba merefleksikan Soekarno sebagai tokoh Nasional Indonesia.

Histori

Hanya dalam sekali pendirian organisasi ini, Haji Samanhudi telah menyatakan permusuhan terbuka kepada dua hal sekaligus, yakni; pertama, ketersekatan. Sejak pihak asing menaklukkan satu-persatu kerajaan-kerajaan di Nusantara dari Abad ke-16 hingga ke-19, tampilan perjuangan amat tersekat berdasarkan pelbagai perbedaan. Akibatnya, kepentingan asing amat gampang memasuki ruang-ruang publik bahkan sampai yang paling mendasar yakni kedaulatan politik. Perlahan-lahan sistem administrasi berpindah secara pasti sebagaimana pastinya perpindahan kedaulatan ekonomi dan perdagangan saat itu.

Simbol-simbol kerajaan hampir-hampir sulit menjadi suatu identitas kebangsaan yang memungkinkan bangkitnya perlawanan yang serius. Perlawanan sporadis baik atas nama kerajaan secara mandiri seperti Perang Aceh, Perang Diponegoro, Perang Gowa-Tallo, dan sebagainya, maupun semacam Pakta Pertahanan seperti Persekutuan Armada Gowa, Buton, dan Ternate, nampaknya juga belum efektif.

Lambat laun, dirasakan pentingnya suatu sistem perlawanan dengan suatu ikatan emosional baru. Setelah membaca peta kekuatan wilayah-wilayah di Nusantara di tengah tekanan asing itulah, Haji Samanhudi dan rekan-rekannya sepakat mengambil Islam sebagai sebuah alat ikat baru. Ketersekatan diperpendek dengan sebuah simbol baru bahkan dalam perkembangannya kemudian, sekat-sekat itu makin menghilang sehingga SDI tumbuh menjadi sebuah kesadaran politik.

Kedua, dominasi ekonomi. Saat berusaha keluar dari ‘penjara’ ketersekatan, SDI menemukan bahwa fakta-fakta masyarakat Islam mengalami kemunduran dari segi industry dan perdagangan bila dibandingkan dengan palku-pelaku ekonomi saat itu, yakni kelompok Eropa dan Cina. Itu sebabnya pilihan nama Syarikat Dagang Islam (SDI) membawa sebuah kekuatan untuk suatu permusuhan ekonomi secara terbuka.

Mengurai problem sosial, ekonomi, dan politik saat itu terasa amat rumit karena derasnya arus perkembangan komunikasi internasional yang sudah beralih pusaran ke monopoli dagang dan dominasi lintas sektoral di bawah kekuatan. Selain itu, karakteristik dan sistem perdagangan berbasis industri modern dan manufaktur berteknologi tinggi mulai menggeser kedigjayaan perdagangan Nusantara yang pada umumnya belum terkelola berdasarkan prinsip-prinsip nilai tambah. Itu sebabnya posisi Nusantara sebagai produsen hanya masuk dalam lingkaran penyedia bahan mentah, belum menjadi pengolah lalu penghasil bahan baku bagi kepentingan industri dalam perdagangan internasional saat itu.

Efeknya tentu saja mudah dibaca bahwa berdasarkan prinsip ilmu ekonomi, masyarakat tanpa penguasaan faktor-faktor produksi akan kian tergeser dan digantikan oleh para penguasa faktor produksi (baru). Perdagangan lalu diisi oleh pelaku ekonomi yang dependen terhadap pemilik modal yang saat itu dikuasai pihak asing.

Kehadiran SDI membawa perubahan baru. Misi persatuan dan kesejahteraan bersama menjadi bara api yang menggerakkan para pelaku ekonomi yang berbasis rakyat. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, SDI tampil menjadi kekuatan baru yang diperhitungkan tertama oleh para pelaku ekonomi asing yang sudah sangat leluasan di Nusantara.

Syarikat Islam

Tahap berikutnya adalah penubuhan Syarikat Islam (SI) dengan tokoh terkemuka seperti HOS Tjokroaminoto serta beberapa tokoh bangsa lainnya. Membawa semangat yang lebih besar sesuai tuntutan dan tantangan zamannya, SI tampil dengan sebuah citra baru. SI menciptakan gelanggang dengan pola gerakan baru.

Kehadiran SI dapat secara tegas membaca dan mengartikan SDI sebagai histori yang mengandung isyarat pergerakan masa depan. Bingkai dan tampilan bukan sesuatu yang harus dipandang kaku, melainkan interpretasi spiritnya yang selalu bergerak maju. Dalam konteks inilah, SDI sebagai histori secara tegas berubah menjadi konsep. SDI sebagai konsep amat sarat dengan muatan pemikiran yang perlu ditafsirkan ke lapangan pergerakan baru.

Tjokroaminoto melihatnya sebagai sebuah upaya untuk menggeser semangat ritual menjadi pergerakan atau perlawanan, yang dalam tulisan ini lebih dipilih diksi “permusuhan” mengingat pihak yang dihadapi masyarakat saat itu adalah pembawa berbagai nilai yang bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan, kesamaan hak, anti-diskriminasi dan sebagainya.

SI tampil juga dengan tiga permusuhan terbuka sekaligus, tanpa meninggalkan dua permusuhan terbuka sebelumnya, yakni; Pertama, permusuhan intelektual. Perlu disadari bahwa era itu adalah era terbukanya semacam kode etik ilmiah yang berhasil menebarkan pemikir-pemikir besar di berbagai lapangan dan disiplin ilmu. Metodologi ilmu pengetahuan sudah menjadi mekanisme baru untuk mendudukkan sebuah konsep keilmuan sebagai rujukan.

Dalam pada itu, pengetahuan agama sudah berkembang menjadi pemandu kehidupan sosial. Secara teologis, Islam saat itu dipandang sebagai sejenis konsep keberagamaan yang menjanjikan kemenangan, kedamaian, dan keselamatan, yang berpusat kepada peran Tuhan semata. Akibatnya, arti penting pergerakan menjadi nyaris nihil dalam kesadaran umat Islam. Meminjam istilah Ali Syariati, Islam hanya dipandang seperti sebuah “madzhab pemikiran” belaka dan bukan “madzhab aksi”. Implementasinya adalah fatalisme teologis yang membungkus sebuah penantian panjang akan berubahnya nasib bangsa.

Tjokroaminoto tampil menjadi penafsir baru dalam masyarakat dengan karya monomentalnya yang amat terkenal, “Islam dan Sosialisme” sebagai sebuah sintesa teologi Islam dan pergerakan sosial. Kepiawaian tokoh inilah yang kemudian memberikan terbukanya jalan untuk tumbuhnya konsep-konsep baru kebangsaan dan pergerakannya.

Di kemudian hari, dalam perspektif intelektual dan keilmuan, karya Tjokroaminoto menurut penulis dapat disepadankan dengan tafsiran sosial-ekonomi dalam konsepDas Capital Karl Marx, Ghandi tentang ‘Teologi Cinta’ dalam Ahimsa sebagai spirit gerakan kemerdekaan, hingga interpretasi Iqbal mengenai konsep Raushan Dhamiruntuk mengartikan manusia dan masa depannya.

Permusuhan intelektual yang dibangun Tjokroaminoto adalah penegasan tentang pentingnya interpretasi itu direinterpretasi sehingga mengalir menjadi sesuatu yang fungsional. Jika tidak, maka setiap konsep akan beku dan cenderung disakralkan sedemikian, sehingga sulit menjadi alat pencerah bagi kemajuan bahkan justru akan menjadi beban sejarah.

Sebagai sebuah konsep baru tentang Islam yang progresif, Tjokroaminoto sukses menjadikan SI sebagai pengusung pergerakan yang berwibawa dan disegani. Ia sukses menjadi intelektual. Fungsi karya-karya intelektual adalah memberikan landasan bagi proses perubahan. Tidak ada revolusi besar dunia yang tak didahului oleh karya para filosof dan pemikir di zamannya. Revolusi Perancis yang mengagumkan, Revolusi Bolshevik yang menggetarkan, Revolusi Islam Iran yang membanggakan, dan berbagai revolusi lainnya takkan tercipta kecuali telah terlebih dahulu bergulir pemikiran dan karya para intelektual. Tjokroaminoto telah memulainya.

Kedua, permusuhan politik. Era itu merupakan saat dimulainya sistem politik baru berdasarkan konsep-konsep administrasi modern. Penguasa Hindia-Belanda bahkan mulai memperkenalkan kelembagaan yang mengadopsi prinsip pembagian kekuasaan dalam Trias Politica-nya Montesquieu.

Secara sangat lihai, SDI melakukan repositioning menjadi sebuah gerakan politik yang diperhitungkan. Reposisi inilah yang ditampilkan dengan baik oleh SI. Kekuatan poilitik kebangsaan sekaligus keislaman pertama di tanah air ini terbukti dapat mendudukkan Tjokroaminoto dalam volksraad di bawah pemerintah Hindia Belanda.

Amat penting untuk dicatat bahwa sikap politik SI bukan kompromistik apalagi transaksional. Tercatat bahwa di kemudian hari, Tjokroaminoto ternyata mengundurkan diri dan meninggalkan “Parlemen Hindia Belanda” itu setelah ia dapat membuktikan kepada publik bahwa sesungguhnya volksraad itu tak lain adalah lembaga yang hanya berpihak kepada kepentingan pemerintahan asing dan bukan kepada warga, rakyat, atau masyarakat banyak.

Konsep politik Islam dalam pemikiran dan sikap Tjokroaminoto dalam SI adalah perjuangan untuk keadilan, kebenaran, dan keselamatan. Konsep itulah yang sangat jauh dari praktik pemerintahan kolonial. Akibatnya, perjuangan politik SI kembali kepada upaya merebut kedaulatan politik rakyat yang menggelinding kemudian menjadi cita-cita kemerdekaan yang pada tahun 1920-an diterjemahkan oleh para muridnya menjadi “Pergerakan Kemerdekaan” sebagai amanat besar kesadaran politik SI.

Ketiga, permusuhan ideologis. Ini yang terpenting. Tanpa harus meninggalkan ideologi Islam bahkan justru memperkuatnya, SI mengambil prinsip-prinsip sosialisme sebagai alat pelecut pergerakan. Islam yang hanya hanya disemai sebagai sebuah konsep individual dan ritual hanya akan menimbun kesengsaraan sosial. Itulah sebabnya Islam menjadi sebuah konsep ideologi bagi kepentingan pergerakan.

Tjokroaminoto membaca bahwa hanya dengan menginterpretasi prinsip keadilan dan kesederajatan, persamaan hak dan kewajiban, pengaturan administrasi bagi pelayanan sosial dan berbagai prinsip lain menjadi setara dengan doktrin syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, umat Islam akan merasakan bahwa masih ada tanggung jawab lain yang perlu ditunaikan dalam masyarakat islam.

Ibarat baru sembuh dari pengaruh obat bius, masyarakat yang tersentuh pemikiran SI saat itu tiba-tiba bangkit menyeruak dalam barisan pergerakan rakyat. Keadaan yang sebelumnya tidak pernah dirasakan oleh masyarakat muslim Nusantara. Seperti diketahui dan sering dibanggakan umat NU di Indonesia, bahwa Islam datang dengan damai tanpa pergolakan dan ancaman kepada komunitas lainnya, SI justru hadir memberikan perhitungan politik yang sangat dahsyat kepada pemerintah Hindia-Belanda. Sebagai catatan, bahwa misi damai para wali sangat dihargai dalam konteks strategis penyebaran nilai-nilai islami ke dalam budaya lokal, bukan menyatakan berdamai kepada penindasan. Namun memang fakta menunjukkan bahwa hingga tahun 1930, masyarakat tradisional Islam di seantero negeri belumlah pernah melakukan perlawanan politik yang mengguncang pemerintahan dalam skala nasional.

Ideologi Islam berkembang dari pengertian literal-teologis seperti yang terjadi pada peperangan raja-raja Islam Nusantara terhadap Belanda dan Portugis menjadi pengertian substansial-filosofis melalui pergerakan politik. Ringkasnya, SI memberikan sebuah konsep baru bahwa keselamatan yang dijanjikan Islam hanya akan terjadi jika dua kelompok pengertian Islam yang bergerak dalam pembebasan sosial, bukan dengan asketisme individual belaka.

Konsep

Penjelasan di atas mengantarkan pengertian baru, yakni SI sebagai konsep, sehingga dalam membaca SI tidak boleh lagi hanya secara historis belaka dengan kejayaan dan kedigjayaan masa lalu, melainkan bahwa SI adalah suatu bacaan. SI adalah buku besar yang patut selalu dibaca oleh generasi berikutnya hingga kini. Apa sebabnya? Karena pada lembaran-lembara SI mewariskan konsep-konsep tentang Islam, kebangsaan, pembebasan, dan keadilan.

SI sebagai sebuah konsep mengantarkan kesadaran, bukan hanya pengetahuan. William Chittick (1996) menyatakan bahwa pengetahuan dan kesadaran merupakan dua hal penting bagi proses perubahan. Pergumulan pemikiran dalam rangka menyatukan kekuatan pengetahuan dan kesadaran rakyat itulah, SI yang juga memang pada faktanya mengalami fragmentasi dan friksi, berusaha mengkristalkan prinsip pergerakannya dalam sebuah jargon perjuangan yang mudah dipahami masyakarat sebagai pengguna ideologi.

Perlu juga disadari bahwa pemikiran seorang intelektual seperti Tjokroaminoto yang mensintesiskan Islam dan Sosialisme untuk tujuan pergerakan haruslah dapat meyakinkan rakyat dan dapat diterapkan dalam pergerakan rakyat. Oleh sebab itulah, Tjokroaminoto kemudian dalam mengembangkan SI sebenarnya ingin mengatakan bahwa secara akidah setiap muslim harus tetap berpegang teguh kepada tauhid atau syahadatain, namun konsekuensi sosiologisnya adalah pergerakan untuk pembebasan. Pada keduanyalah kemudian Islam akan bermakna dalam masyakarat dan masa depannya.

Konsep tersebut kemudian termanifestasi dalam rumusan Syarikat Islam yang dikenal dengan Triloginya. TrilogiSyarikat Islam yang amat terkenal itu adalah; sebersih-bersih tauhid, seluas-luas ilmu pengetahuan, dan sepandai-pandai siyasah. Ini menggambarkan bahwa para pembaca SI harus secara tuntas membaca konsep teologisnya berikut konsep epistemologis dan politiknya. Prasyarat sebuah pandangan dunia (world view atau welthanschauung) yang kemudian dipertanyakan oleh Soekarno di awal perumusan Negara baru Indonesia ini sebenarnya telah mudah dibaca melalui SI sebagai sebuah konsep.

 Cita

Kini, masyarakat bekas Hindia-Belanda sudah berbangsa dan bernegara merdeka selama hampir 70 tahun lamanya. Pengelolaan Negara Indonesia ini sudah mengadopsi prinsip-prinsip negara modern. Pasang surutnya dapat dikenali dalam beberapa karakteristik, yakni; ideologi politik aliran pada era Soekarno, ekonomi developmentalisme pada era Soeharto, transisi demokrasi pada era setelah Soeharto. Bangsa ini sedang dalam perjalanan panjang dalam mewujudkan tekad kebangsaan yang mempersatukan bangsa-bangsa merdeka di Nusantara awal Abad ke-20. Tekad itu terumuskan dengan baik dalam ‘Piagam Kebangsaan dan Manifesto Kemerdekaan’ yakni Pembukaan UUD 1945 yang Anis Baswedan (2011) menyebutnya sebagai janji kemerdekaan.

Meski demikian, faktanya, ada arus besar yang hendak menyerat praktik tata kelola bangsa ini jauh ke hilir yang salah. Praktik korupsi, penyalahgunaan kewenangan dan kekuasaan, pembiaran aset bangsa ke genggaman asing, serta dekadensi moral anak bangsa lainnya, menjadi tantangan baru.

Melihat SI sebagai sebuah prasasti perjuangan bangsa, ia harus hadir dalam dimensi yang hidup. Hidup sebagai histori, konsep, dan cita. Ia telah menciptakan kebanggaan historis dan telah pula mencapai sebuah taraf konseptualisasi bagi sebagaian rakyat yang sadar. Namun, ia tak boieh diam sebagai sebuah konsep. Ia harus bergerak. Kini SI harus diubah dari konsep menjadi cita. Ia adalah harapan yang hidup. Upaya perbaikan karakter masyarakat sesuai visi sebersih-besih tauhid untuk membangun moral terpuji, perjuangan mencapai ketinggian dan penguasaan iptek menurut prinsip seluas-luas ilmu pengetahuan, dan penguatan posisi politik dalam pengertian luas berdasarkan prinsip sepandai-pandai siyasah, kini tidak dapat lagi sekadar menjadi konsep melain juga harus menjadi cita. Inilah cita sosial masyarakat Indonesia yang diwarisi dari SI. Sebuah praktik pergerakan, konsep intelektual, dan cita masa depan untuk menjadi bangsa dan peradaban besar.

Mewarisi SI

Tugas besar bangsa, khususnya warga dan keluarga SI untuk mewarisi SI secara tepat. Disebut secara tepat karena konsep mewarisi yang berjalan di berbagai faksi SI sekarang ini seolah-seolah berdasarkan ukuran-ukuran fisik, struktural, dan institusional. Fakta menunjukkan bahwa sejak lama SI ada dalam pusaran friksi internal akibat pilihan strategi perjuangan dan juga yang bersifat tafsiran ideologis. Terhitung sejak kebijakan fusi pertain politik oleh pemerintah Orde Baru hingga penerapan asas tunggal Pancasila hingga keikutsertaan dalam pemilihan umum di era reformasi. Jauh sebelumnya, sebenarnya SI tidak bersih dari friksi misalnya yang paling awal adalah lahirnya SI-Merah pimpinan Semaun (yang kelak menjadi PKI). Demikian juga adanya faksi SI dilihat dari pemimpinnya, misalnya SI Agus Salim, SI Tjokroaminoto, dan sebagainya.

Kini SI masih dalam situasi friksi. Klaim atas SI masih ada pada beberapa kubu-ubu yang saling berseberangan, bukan dalam nilai-nilai dasar atau ideologi SI melainkan dalam politik, strategi dan taktik perjuangan. Sungguh ironis, karena SI dalam menurunkan Triloginya –sebagaimana telah dikemukakan di depan– dariProgram Azas dan Program Tanzhim, salah satunya adalah “Sepandai-pandai siyasah”. Letak ironinya adalah implementasi sepandai-pandai siyasah yang tidak mengarah ke ekternal organisasi melainkan ke internal. Politik SI kini sudah bergulir tidak jauh dari batas-batas organisasi SI sendiri. Kini SI tak lagi nyaring di lapangan sosial yang luas. SI semakin sibuk meretas masalah yang melilit dan membelitnya laksana kedua kaki ayam yang terjerat lilitan tali nylon.

Niat mewarisi SI adalah niat baik dan mulia. Kemuliaannya itu dapat jatuh jika perspektifnya hanya tersandung pada pewarisan institusional belaka. Dapat dipastikan bahwa klaim pewarisan institusional hanya akan memperpanjang friksi. Ada baiknya klaim institusional tersebut dimoratorium untuk selanjutnya memikirkan perspektif pewarisan nilai sebagai refleksi dari upaya untuk melihat SI tidak saja sebagai histori, melainkan telah menjadi konsep dan cita perjuangan bangsa.

Oleh sebab itu, tulisan ini hendak menyampaikan saran kepada para “pewaris” SI, sebagai berikut; Pertama, jika hanya akan bertahan pada klaim institusional untuk memperebutkan keabsahan kepengurusan SI berikut kepemilikan aset perjuangan SI, maka hendaknya dicapai keputusan untuk ko-eksisten. Ko-eksistensi merupakan penyelesaian dalam rangka mengakhiri polemik internal dan tekad untuk bersama-sama berjalan dengan menyepakati simbol-simbol yang berbeda (walau memiliki banyak kesamaan) dalam rangka meningkatkan kinerja perjuangan organisasi demi kepentingan bangsa. Dengan demikian, akan ada berbagai varian SI yang masing-masing independen. Menjalin silaturrahim secara institusional dapat dan sebaiknya dilakukan dalam konteks interdependensi organisasi sebagaimana cara melihat organisasi lain seperti Muhammadiyah, NU dan lain-lain. Ko-eksistensi ini bersifat non-temporal.

Kedua, jika masih ada keinginan baik untuk menyatu, tidak mengapa jika masing-masing masih independen dan ko-eksistensi temporal sambil mencari metoda menyatu dengan elegan. Cara yang mungkin dilakukan dalam konteks ini adalah membentuk sebuah media bersama yang masing-masing pihak memiliki utusan dalam pengelolaan media tersebut, sebagai corong dalam menyampaikan gagasan-gagasan, berbagai pernyataan, serta publikasi organisasi secara adil. Kini sudah sangat memungkinkan SI Bersatu melalui sebuah media on-line bersama. Jika berbagai kubu SI sepakat meluncurkan sebuah media bersama yang pengelolaannya ditangani oleh Tim Teknis Profesional dan dewan redaksinya berasal dari utusan masing-masing kubu, maka dalam satu tahun akan terlihat produktivitas organisasi yang terukur. Tentu juga memungkinkan memperoleh jalan keluar yang baik bagi niat reunifikasi.

Ketiga, jika ingin lebih maju daripada itu, semua kubu dapat membekukan kepengurusannya dan menyatukan diri dalam sebuah Majelis Pengkaji Islam dan Kebangsaan atau nama lain yang relevan. Dengan cara itu semua pengurus, terutama para sesepuh organisasi akan menjadi guru-guru SI yang dapat menyampaikan pesan intelektualnya lewat dukungan media bersama, Media Majelis Pengkaji Islam dan Kebangsaan tadi.

Dapat diduga, apabila para tokoh dan sesepuh di masing-masing kubu tidak segera mengambil sikap untuk memilih satu dari tiga opsi atau mungkin juga opsi lain yang berwarna “rekonsiliasi rasional” yakni tidak untuk saling meniadakan, maka penulis berpendapat bahwa pada saatnya nanti yang akan terjadi adalah opsi pertama dari tiga opsi itu. Nanti, di masa depan di tengah kearifan generasi baru SI di berbagai kubu itu akan segera membenahi organisasinya masing-masing sambil melupakan kubu SI yang lain. Akibatnya aka nada SI dari berbagai varian yang masing-masing berjalan kian menjauh berdasarkan perkembangan alamiah organisasinya masing-masing secara ko-eksisten permanen. Kalu ini juga gagal maka boleh jadi, justru SI akan lebih lebih buruk daripada itu, yakni tetap dalam perseteruan.

Lain halnya jika para tokoh dari berbagai kubu SI ini lapang dada memilih salah satu opsi terutama karena kehendak baik untuk mengubah cara pandang dari SI yang menyejarah menjadi SI sebagai referensi besar bangsa untuk selanjutnya menjadi cita masa depan, maka tentu pilihan terbaik adalah berkorban. Merelakan segala kepengurusan dibekukan dalam satu institusi non-struktural. Sebuah institusi yang bersifat kultural dan intelektual untuk melahirkan gagasan bersama. Inilah cara mewarisi SI yang tepat, mewarisi spirit nilai perjuangan SI dahulu kala dengan merevitalisasinya dalam menjawab tantangan bangsa masa depan.

Akhir tulisan ini akan dikutipkan kisah inspiratif. “Syahdan, dua orang ibu memperebutkan seorang bayi. Keduanya mengklaim bahwa bayi tersebut adalah bayi yang lahir dari rahimnya. Keduanya kemudian membawanya ke hadapan hakim. Sang hakim sulit menyelesaikannya secara damai. Semua tawaran menjadi mentah. Sang hakim kemudian memberi jalan terakhir, yakni membagi dua bayi tersebut agar tak satu pun merasa dikalahkan.

Sontak salah seorang dari keduanya menyatakan kalah. Ia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada ibu yang satu, sambil mengatakan; “Saya lebih senang bayi ini hidup dan melihatnya tumbuh menjadi manusia dewasa. Jadi mulai saat ini, ambillah bayi ini!” Hakim akhirnya justru memenangkan ibu yang mengalah itu. “Dialah pemilik hati nurani seorang ibu sebab tidak akan tega seorang ibu kandung melihat anaknya sakit.”

Para pemilik SI kini memiliki kesempatan untuk menjadi pemilik sah secara bersama. Tentu jika didahului dengan sikap berkorban dan mengalah juga secara bersama untuk tidak membiarkan SI stagnan. SI punya kesempatan menjadi sebuah pergerakan besar dengan segera mengambil langkah terbaik. Mempertimbangkan opsi-opsi dalam tulisan ini atau mencari penyelesaian yang lain dengan tidak lagi menunda waktu, semoga pada ulang tahun SDI ke-110, 16 Oktober 2015 tahun depan, SI sudah memiliki sikap baru secara bersama.

Bahan Bacaan:

  1. Latif, Yudi. Negara Peripurna, Gramedia, Jakarta, 2002.
  2. Syariati, Ali. Islam; Madzhab Pemikiran dan Aksi, Mizan, 1989.
  3. Iqbal, Muhammad, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam, Jalasutra, 1997.
  4. Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1943, LP3ES, Jakarta, 1982.
  5. __________, Partai Islam di Pentas Nasional 1945-1965, Grafiti Press, Jakarta, 1987.
  6. Baswedan, Anies. Melunasi Janji Kemerdekaan, Artikel, Kompas, Jakarta, 2011.

Oleh SYAFINUDDIN AL-MANDARI:
Penulis adalah pemerhati kebangsaan, besar dari keluarga Syarikat Islam hidup dalam semangat Syarikat Isla, serta alumni Universitas Cokroaminoto Makassar. Pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam.

Komentar


Komentar anda tentang berita ini :