Pidato Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam pada Tasyakuran 112 tahun Syarikat Islam

Diposting oleh : Aulia Tahkim Tjokroaminoto | Sunday, 15 October 2017. 10.35 WIB
22 Comments

Pidato Ketua Umum
Pimpinan Pusat/ Lajnah Tanfidziyah SYARIKAT ISLAM

 

Tasyakkur Milad ke-112 Syarikat Islam

 

Masjid Istiqlal – Jakarta

Ahad, 25 Muharram 1439 H / 15 Oktober 2017

 

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala atas segala karunia nikmat yang telah dicurahkannya kepada kita semua. Shalawat dan salam tentunya tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat dan ummat yang setia mengikutinya.

Hadirin yang saya hormati
Suatu kebahagiaan yang tinggi bagi kaum Syarikat Islam, karena hari ini kita berada dalam suasana yang lebih mendekatkan kekariban antarsesama Kaum SI utamanya dalam melanjutkan perjuangan dan sekaligus menatap masa depan demi teraihnya kembali kejayaan Syarikat Islam. Rentang perjalanan waktu yang telah dilalui, yang kini Alhamdulillah telah sampai pada bilangan 112 tahun, tentulah menjadi cacatan kita semua, betapa sesungguhnya telah banyak yang dilakukan oleh kaum Syarikat Islam, para tokoh pendahulu kita.
Ada ukiran prestasi yang membanggakan, namun juga tentu ada masa-masa tertentu yang menjadikan perjuangan SI seperti “kehilangan momentum”-nya, yang satu sama lain datang silih berganti. Apa yang terjadi dalam fluktuasi perjuangan Syarikat Islam, menjadi hikmah untuk kita mengambil ibrah, dan melakukan muhasabah secara jernih, yang kemudian kita menetapkan langkah perjuangan lanjutannya secara cermat dan cerdas.
Untuk itulah sejak saya diamanatkan memimpin organisasi perkauman ini, sembari melakukan internalisasi secara mendalam akan nilai-nilai dan doktrin yang melekat dalam tradisi Syarikat Islam, lalu saya bersama teman-teman Pengurus DPP SI mengajak kita semua melakukan ikhtiar dan pencermatan yang menyeluruh atas peran yang akan dan harus dilakukan oleh SI. Kesimpulannya, kita harus mengembalikan Syarikat Islam kepada dimensi kejuangan sebagaimana cita awalnya, yakni berjuang untuk menegakkan keadilan ekonomi dengan memusatkan dakwah dan perjuangan kita pada lapangan ekonomi dan perdagangan
Mengapa? Karena “dimensi perdagangan” adalah pilihan yang sangat tepat yang dilakukan H. Samanhudi untuk menggerakkan Kaum Inlanders yang tiada lain adalah ummat Islam, sebagai kaum kebanyakan; mengakumulasi kekuatan dalam rangka kesadaran membangkitkan diri “melawan” kezhaliman kolonialisme dan dominansi perekonomian yang dikuasai bangsa Eropa bersama kaum Cina Perantauan.
H. Samanhudi tidak sendirian, karena pada 1909 di Bogor dan Batavia, R.M. Tirto Adisoerjo juga memiliki gagasan yang sama dengan mendirikan Syarikat Dagang Islamiyah; hingga pada gilirannya Syarikat Dagang Islam (1905) berpadu-padan dengan Syarikat Dagang Islamiyah (1909) menggerakkan bangkitnya semangat perjuangan kaum muslimin di Nusantara.
Akselarasi dan daya dorong perjuangan rakyat yang dimotori Syarikat Islam semakin tinggi — dan hal ini membuat kekhawatiran Pemerintah Hindia Belanda — yang oleh HOS Tjokroaminoto diterjemahkan betapa sudah perlunya garis perjuangan SI dalam membela Kaum Inlander itu, tidak lagi semata-mata bertumpu pada dimensi perdagangan atau ekonomi, lalu bertransformasi dalam perjuangan pada garis politik secara praksis. Memang antara politik dan ekonomi tidak dapat dipisahkan. Ketidakadilan ekonomi seringkali lahir dari kebijakan politik yang tidak adil, menguntungkan sebahagian rakyat dan merugikan sebahagian lainnya. Demikian sebaliknya, kekuatan ekonomi dan finansial memiliki pengaruh kuat dan menentukan bagi kebijakan politik. Oleh karena itu pilihan, transformasi perjuangan Syarikat Islam dari gerakan yang fokus pada ekonomi perdagangan kepada politik dan kekuasaan oleh HOS Tjokroaminoto dan segenap para pendahulu kita yang lainnya, tidaklah salah, karena kondisinya menuntut pilihan yang demikian.
Apa yang dilakukan oleh HOS Tjokroaminoto tentang meningkatkan garis kejuangan pada dimensi politik pada masanya adalah menjadi pertanda bahwa Syarikat Islam secara tegas dan terang-terangan menyatakan berhadapan-hadapan dengan Pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian benar-benar dibuktikan dengan menuntut akan hak-hak kaum pribumi atas tanah negerinya.
Peristiwa 16 Juni 1916 di alun-alun Bandung sehari sebelum pelaksanaan Natico I Central Syarikat Islam (17-20 Juni 1916), dalam sebuah rapat openbaar (di muka umum, secara terbuka) HOS Tjokroaminoto menuntut apa yang kemudian sejarah mencatat sebagai tuntutan agar diberikannya hak dan kesempatan bagi Kaum Pribumi memiliki pemerintahan sendiri (Zelf Bestuur).
Saya lalu ingin mengatakan, sejak dalam kepemimpinan HOS Tjokroaminoto itulah dimensi politik menjadi sibghah (warna) kejuangan Syarikat Islam, dan hal itu berlangsung hingga ke zaman kita kini. Perjuangan politik terus berlangsung dengan segala dinamika pasang-surutnya, sehingga kita lalu tak sempat memperhatikan urusan perjuangan dalam garis ekonomi. Alhasil, dalam rentang masa yang panjang, di tengah keasyikan ummat Islam Indonesia bertarung di dunia politik dan kekuasaan, kaum atau kelompok lain secara pasti menjadi amat berjaya dan menguasai urusan pengaturan perdagangan dan ekonomi bangsa. Alhasil, rakyat yang kebanyakan adalah kaum muslimin secara langsung atau tak langsung lalu berada dalam ketiak kekuasaan kaum kaya, kaum pemodal yang bukan dari kalangan pribumi.
Retrospeksi kesejarahan semacam ini menjadi amat penting bagi Kaum SI, sebab kita atau para pendahulu kita adalah eksponen bangsa yang paling duluan dan harus memahami situasi kebangsaan sebagaimana hadirnya SDI dulu. Sementara itu, keadaan hari ini adalah kurang lebih sama dengan keadaan pada lebih dari seabad silam, yaitu kita kaum muslimin kembali berposisi (meminjam istilah yang diberikan oleh Pemerintah Kolonal Belanda) sebagai “Kaum Inlanders”, menjadi Warga Negara Kelas Tiga di tanah kelahirannya sendiri.
Siapa yang menguasai negara beserta asset SDA-nya, dan siapa yang menguasai bidang ekonomi dan perdagangan beserta sumber daya ekonominya di negeri kita saat ini, seluruh manusia sejagat tentulah tahu.
Realitas menunjukkan bahwa dari sisi penguasaan ekonomi, ummat Islam Indonesia berada dalam posisi piramida bawah, yaitu sebagai kelompok terbesar rakyat yang memiliki penguasaan ekonomi sangat kecil, yang dari kondisi tersebut berimplikasi pada berbagai bidang kehidupan kebangsaan lainnya, apakah itu pendidikan, kesempatan usaha, sosial, dan bahkan politik.
Kita dapat melihat bagaimana posisi piramida bawah itu dalam skala nasional, yang ditunjukkan dengan angka ketimpangan ekonomi Indonesia sekarang ini (gini ratio) yaitu 0,40. Angka tersebut memberikan gambaran bahwa 40% kue ekonomi Indonesia dikuasai oleh segelintir orang, sehingga menunjukkan pula bahwa ketimpangan ekonomi kita begitu sangat tinggi. Lebih memprihatinkan lagi, segelintir orang yang menguasai ekonomi itu mayoritas mutlaknya bukan dari kalangan ummat Islam.
• Dari 50 orang pengusaha terkaya lapisan atas Indonesia hanya ada delapan orang dari muslim dan pribumi dengan kekayaan hanya $11 Miliar.
• Lebih parah lagi, menurut data Bank Dunia tahun 2016, share kesejahteraan yang dimiliki oleh 1% rumah tangga di Indonesia adalah 50,3% dari total kesejahteraan.
Yang 1% itu, sangat sedikit dari kalangat ummat Islam. Belum lagi dalam persoalan pemilikan tanah dan lahan yang juga telah dikuasai oleh bukan kaum pribumi, yaitu 65% kepemilikan dan penguasaan tanah dimiliki oleh segelintir orang.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Kita tentu tak boleh sekadar tercenung untuk lalu meratapi nasib. Silaturrahim sembari bernostalgia adalah penting bagi kita sesama Kaum SI untuk menggairahkan semangat juang. Dari situlah kita berikhtiar menciptakan langkah-langkah yang kiranya mampu mengembalikan Syarikat Islam kepada fitrah asli kejuangannya, sehingga dapat terangkatnya marwah (muru’ah) Syarikat Islam, sebagai organisasi yang mampu menaungi segala kepentingan anak bangsa.
Pilihan kita kembali ke khittah awal dalam dakwah ekonomi, dalam dua tahun terkahir ini, telah mendapat sambutan antusias dari kaum dan ummat Islam di berbagai daerah di seluruh Indonesia bahkan di beberapa negara muslim. Penyegaran dan pembentukan wilayah di seluruh Indonesia berjalan dengan sangat baik, yang hingga sekarang ini tinggal beberapa provinsi yang belum terbentuk atau belum dilakukan penyegaran kepengurusan. Demikian juga organisasi serumpun, WSI tumbuh dan bergerak dengan sangat antusias di seluruh Indonesia, Pemuda Muslimin Indonesia, yang kemarin melaksanakan pelantikan dan Konferensi Besarnya yang pertama, terus menata diri melakukan konsolidasi, demikian juga Pandu SIAP terus bergerak, PERISAI terus memperkuat konsolidasi dan pembentukan wilayah dan cabang di seluruh Indonesia. Kita berharap Gertasi serta SEMMI akan segera hidup dan bergerak kembali. Bahkan kita telah membentuk perwakilan Syarikat Islam di Turki dan Saudara Arabia, dan dalam waktu dekat kita membentuk perwakilan di Malaysia.

Saudara-saudara yang saya hormati
Sekarang ini, tumbuh kesadaran baru di kalangan ummat Islam untuk membangun dan memperkuat ekonomi ummat, karena selama ini disadari, kita terlalu sibuk hanya dalam urusan politik dan dakwah sosial dan keagamaan, mengabaikan penguatan ekonomi ummat. Tidak ada satu pun Ormas Islam yang memiliki fokus perjuangan pada bidang penguatan ekonomi ummat. Oleh karena itu, pilihan kita tepat, inilah ladang dakwah yang akan kita tekuni dan kembangkan secara konsisten dan terus menerus. Kita sedang dan terus melakukan transformasi menuju organisasi dakwah yang berbasis ekonomi dan ekonomi berbasis dakwah. Itulah tema besar perjuangan dan pergerakan kita. Saya berkeyakinan bahwa dengan penguasaan ekonomi, akan dengan mudah kita memiliki kekuasaan politik dan dakwah sosial serta keagamaan pun menjadi lebih mudah, mandiri dan disegani. Konsentrasi pada gerakan dakwah ekonomi bukan berarti kita meninggalkan dakwah keagamaan, pendidikan sosial dan budaya, tetapi justeru dengan gerakan ekonomi itulah itulah kita menggerakkan dakwah yang lainnya secara simultan.

Saudara-saudara yang saya hormati
Majelis Tahkim Syarikat Islam, 2015, diselenggarakan untuk maksud mengembalikan Syarikat Islam kepada fitrahnya sebagai organisasi pergerakan kebangsaan kaum Muslimin Indonesia sebagaimana menjadi cita awal keberadaannya. Oleh sebab itu, konteks ishlah atau rekonsialisasi menjadi semangat dan tujuan utama dari Majelis Tahkim tersebut yang Alhamdulilah telah kita wujudkan bersama.
Yang kemudian harus kita lakukan adalah meningkatkan silaturrahim dengan seluruh potensi kaum Syarikat Islam yang bertebaran di mana-mana sekaligus melakukan usaha-usaha yang cerdas sehingga makna kehadiran Syarikat Islam di masyarakat benar-benar bermanfaat. Silaturahim pun harus dilakukan dengan sekalian anak bangsa secara keseluruhan karena muara perjuangan Syarikat Islam adalah terwujudnya kemerdekaan sejati bagi sekalian umat manusia.
Sebagaimana dipahami bahwa landasan perjuangan Syarikat Islam adalah Dienul Islam. Dengan demikian, Syarikat Islam tetap dalam garis perjuangan bahwa universalitas Islam harus dipahami secara jelas oleh para pemimpin dan ummat. Islam telah memberikan prinsip-prinsip universal tentang persamaan, persaudaraan, keadilan, dan permusyawaratan. Konsep ini lahir di tengah masyarakat yang diskriminatif karena faktor suku dan etnis, di mana Islam dapat menyelesaikannya sebagaimana sabda Rasulullah SAW: ”Tidak ada kelebihan orang Arab dari orang non-Arab, selain ketaqwaan.”
Oleh karena itu kaum Syarikat Islam mengajak kepada seluruh anak bangsa dan ummat secara keseluruhan agar bersama-sama secara simultan meyakini dan penuh kesabaran bahwa kita dapat menerapkan syariat Islam secara kaaffah (totalitas) dalam kehidupan kita dan kehidupan berbangsa. Dengan berpegang teguh pada tali Allah dan tak lagi bercerai-berai, sungguh akan membawa kepada nilai-nilai keadilan dan kemerdekaan yang sejati sesuai dengan fitrahnya manusia. Syarikat Islam sendiri dalam mengolah keduniaan selalu mengacu dan bersandar pada Tauhid yang bersih, ilmu yang tinggi, dan pandai dalam syiasah.
Sebagai organisasi pergerakan tertua, apabila menarik garis kesejarahannya, bagaimanapun harus diakui bahwa kelahiran Syarikat Dagang Islam (SDI) 16 Oktober 1905 merupakan embrio yang mendorong bangsa Indonesia kemudian meraih kemerdekaannya. Dalam alam kemerdekaan dan masa kekinian, Kaum Syarikat Islam tentu harus ikut memikirkan semua hal yang menjadi problematika keummatan dan kebangsaan yang dihadapi. Oleh karena itu kaum Syarikat Islam ber’azam dengan sepenuh hati dan kesungguhan tekad bersama-sama elemen dan komponen masyarakat lainnya untuk mengembalikan nilai-nilai keindonesia¬an kepada maqam azalinya yaitu Indonesia yang berdimensikan pada nilai-nilai religiusitas, kebangsaan/ nasionalisme dan permusyawa-ratan; dan perjuangan kita harus dapat menciptakan kehidupan sosial, kehidupan kebangsaan serta kehidupan kenegaraan yang diwarnai oleh nilai-nilai Islam.
Dalam mengisi masa pembangunan saat ini, pergerakan Syarikat Islam tidak lagi berfokus pada alur politik praktis tetapi akan tetap produktif dalam melangkah, tidak menyia-nyiakan amanat umat, menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman secara utuh, meningkatkan kualitas hidup rakyat melalui peningkatan kualitas pendidikan dan kebangkitan ekonomi serta tidak kalah pentingnya adalah mengkritisi secara konstruktif setiap gejala dan langkah-langkah yang merugikan kepentingan rakyat, ummat.
Pemikiran dan langkah-langkah semacam ini relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini dan mendatang. Ajakan Syarikat Islam untuk seluruh eksponen bangsa, yaitu bersama-sama bergerak dalam ruangan luas. Artinya, lebih banyak mendewasakan diri dalam membangun bangsa dengan menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa yang kita cintai.
Syarikat Islam mengikuti dan turut serta membenahi Indonesia berkebiasaan demokrasi, sebab jalan tersebut telah menjadi konsensus nasional yang dipandang dapat memberikan kemajuan pada anak manusia dalam berkiprah, mampu bertoleransi satu sama lain, memberi dan menerima pendapat dalam penalaran yang cerdas dan sehat. Sebaliknya Syarikat Islam menolak mentah-mentah berdemokasi tanpa kendali aturan main yang jelas apalagi jauh dari nilai-nilai syar’iah.
Realitas menunjukkan bahwa dengan model demokrasi liberal sekarang ini telah menimbulkan banyak kerancuan dan sekaligus mengantarkan masyarakat saling bertikai yang terkadang tanpa argumentasi rasional. Bangsa ini harus mengaca dan mengembalikan sistem demokrasi yang selaras dengan budaya dan adab bangsa sendiri. Jangan hanya karena ingin dikatakan demokrasi secara modern, lalu mengadopsi mentah-mentah nilai-nilai Barat (liberalisme) tanpa saringan yang memberi arti bagi kemaslahatan anak bangsa.

Hadirin yang saya muliakan
Di tengah-tengah kehidupan mujmaliyah (global) sekarang ini dan sejalan dengan dinamisasi ritme kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya dan seterusnya yang menjadi daya hidup manusia hendaklah tetap berporoskan kepada dimensi nilai kejuangan dalam semangat keindonesiaan yang luhur, berbudi dan berakhlakul karimah demi menempatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai negara dan bangsa yang tetap dan harus berdaulat di tengah tata pergaulan dunia. Ini pulalah yang dulu diperjuangkan oleh HOS Tjokroaminoto dalam ikhtiar mewujudkan terciptanya Zelf-Bestuur.
Kini dan ke depan, Syarikat Islam akan ikut serta mendorong Indonesia sebagai bangsa dan negara berdaulat yang setara dengan negara-negara lainnya dan berperan aktif dalam menciptakan tatapergaulan dunia yang damai dan bersahabat. Syarikat Islam mengajak kita bersama-sama untuk meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia agar harga diri ini tidak diputar-putar oleh kepentingan faham-faham yang dapat menyesatkan kehidupan manusia secara fitriyah.
Akhirnya, saya ingin mengemukakan bahwa Dewan Pimpinan Pusat Syarikat Islam tidak akan berdaya manakala tidak ada komunikasi, dorongan dan saling-sumbang pikiran serta kerja sama yang solid di antara para pengurus beserta organisasi serumpun Syarikat Islam. Kemudian, para pengurus organisasi di daerah dan seluruh kaum SI, mari kita menyalaraskan barisan kita untuk menempuh “Terciptanya Kemerdekaan Sejati yang Diridhai Allah SWT bagi Umat Manusia”. Dan kita menjalankan amanah “Mewujudkan Kehidupan Manusia yang Seutuhnya sebagai Hamba Allah yang Berpedomankan kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul yang Nyata”.
Dalam momentum usia perjuangannya yang ke-112 ini, saya mengajak marilah kita semua bersatu-padu secara total. Jangan ada lagi sekat atau hijab di antara kita lantaran perbedaan pendapat. Dengan kembali ke garis azimutnya, yaitu kembali ke fitrahnya kita ber’azam untuk bangkit menjemput asa, demi kembali berjayanya Syarikat Islam. Insya Allah.
Kita telah merumuskan langkah-langkah itu, yaitu tentunya diawali dengan konsolidasi dan mengembangkan organisasi yang berkualitas di atas kuantitas yang signifikan. Membenahi sistem pendidikan demi penyemaian ketinggian ilmu yang berakal budi, melakukan pengayaan dalam kepandaian bersiyasah, dan melakukan Gerakan Dakwah Ekonomi yang pada gilirannya dapat mengangkat kualitas kaum pada maksud-maksud kesejahteraannya. Semua dilakukan dengan berpijakkan pada dimensi nilai sebersih-bersih Tauhid.
Semoga Allah tetap melindungi kita semua dengan limpahan nikmat dan barokah-Nya. Maafkan apabila ada kesalahan dan do’akan kami agar benar-benar mampu melaksanakan amanat sebagai Dewan Pimpinan Pusat Syarikat Islam.

Fattaqullaha mastatha’tum
BILLAHI FII SABILIL HAQ

 

Dr. H. Hamdan Zoelva, S.H., M.H.

 

Komentar


Komentar anda tentang berita ini :