SETOP BERCERMIN DALAM GELAP

Diposting oleh : Aulia Tahkim Tjokroaminoto | Tuesday, 15 August 2017. 22.21 WIB
20 Comments

Oleh Sem Haesy (Dewan Pakar Syarikat Islam)

SALAH satu perbuatan paling dungu yang di-lakukan manusia adalah bercermin dalam gelap. Sejernih apapun cermin itu, pasti tak akan menampakkan apapun juga.
Bercermin dalam gelap, hanya akan memperoleh ilusi dan fantasi. Bayangan illutif tentang sesuatu yang hanya di¬tupang hasrat dan keinginan semata.
Bukan imajinasi, yang merupakan deskripsi abstraktif tentang masa depan yang terukur, jelas parameternya, dan dapat diwujudkan dalam realitas pertama kehidupan.
Selepas berlakunya Dekrit Presiden tahun 1959 sampai tahun 2004, perjalanan bangsa ini, seolah mendorong seluruh potensi bangsa ini, bergerak dari ruang terang benderang menuju ke ruang remang-remang, dan akhirnya gelap sama sekali.
Terutama, ketika pemahaman kita tentang demokrasi selalu berulang-ulang pada siklus katastrop. Mulai dari liberalisma, demokrasi terpimpin, demokrasi represif, dan kemudian kembali ke liberalisma.
Padahal, Pembukaan UUD 45 sebagai cermin bening bangsa ini, yang diberlakukan sehari setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, tak pernah berubah.
Proses pencapaian perjuangan kebangsaan telah membentuk cermin kebangsaan yang sangat luar biasa. Tetap berada pada dinding ruang hidup berbangsa, dan bernegara yang sama.
Ruang Negara Republik Indonesia, yang mulanya terang benderang oleh kerangka idealistika penuh cahaya kegemilangan, lalu perlahan-lahan meredup, remang, dan akhirnya gelap.
Di dalam suasana semacam itulah, kita terlena arus pemikiran yang didominasi darkdreams tentang ke¬merdeka¬an dan demokrasi.
*
BOLEH jadi kita sudah cukup fasih mengartikulasikan demokrasi, namun kita masih harus mengeja demokrasi secara alfabetis. Terutama, saat mengulang-ulang pemahaman tentang ideologi. Tapi membisu, kala hakekat nasionalisme dan religisitas dicerai-pisahkan dengan beragam teori usang tentang kebangsaan dan demokrasi.
Seolah-olah kita sedang merasa sedang melangkah ke masa depan, padahal sesungguhnya sedang melangkah berputar ke masa lalu.
Karena bercermin dalam gelap, kita harus terus mengeja dengan gagap, perbedaan hakiki antara amanat dengan khianat.
Sama seperti kita harus mengeja hakekat kebangkitan dengan pertikaian, dan terbata-bata mengeja reformasi, lantas terperosok arus deformasi.
Karena bercermin dalam gelap, kita sesuka hati mengatasnamakan rakyat untuk menebar praktik muslihat.
Kita meneriakkan berbagai jargon di hadapan massa rakyat, lalu melupakannya begitu saja, ketika tergoda ‘birahi’ kekuasaan dan akhirnya menjual kerangka idealistika kemerdekaan bangsa, dengan harga sangat murah.
Kita mobilisasi ilusi dan fantasi kolektif rakyat dan membiarkannya terjebak dalam derita panjang. Lalu, tenggelam dalam persepsi dubieus tentang demokrasi dan kemerdekaan.
Kita tak pernah sadar, membiarkan diri terkungkung kebahlulan dan kebahilan mental, saat meneriakkan kosa kata: keadilan, sejahtera, persatuan, karya, demokrasi, pembaruan, kebangkitan, peduli, gerakan, hati nurani, barisan, pemuda, republik, dan entah kosakata apalagi. Lalu, bingung merumuskan makna dan aplikasi-nya dalam realitas pertama kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
72 Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI, mestinya menjadi momentum untuk setop bercermin dalam gelap. Lalu kembali berpijak di bumi nyata, mengalir dalam realitas kehidupan pertama.
Membuktikan kepada rakyat, bahwa kemerdekaan bukanlah semata-mata kebebasan memperjuangkan hak. Melainkan kemandirian untuk berdaulat. |

Komentar


Komentar anda tentang berita ini :